Melayang

Aku memang sedang melayang
karena aku bisa menyentuh awan-awan putih bergelantungan
terbang bersama burung di cakrawala
terapung di antara gemerlapnya bintang
bercanda dengan sang rembulan
kedua kakiku 1000 kilometer di atas tanah

Aku memang sedang melayang
di antara kisi-kisi hatimu
di sela-sela hembusan lembut suaramu
di lorong-lorong putaran waktu rindu
sembari menanti mimpi bersama lagu

Merajut

Aku sedang merajut sebuah syal
Terbuat dari benang wool berwarna biru
Kurajut perlahan dengan hati dipenuhi lagu
Menyenandungkan irama syahdu dan merindu

Bila nanti syal itu sudah jadi
Terasa lembut dan menawan hati
Menghangatkan raga dan juga hati
Karena kutau kau sedang menanti janji

Aku juga sedang merangkai bunga
Bermacam bentuk dan aroma
Ada bunga mawar, anggrek, lily dan kenanga
Dihiasi lukisan sang dewi cinta

Jika bunga itu selesai kurangkai
Kuletakkan di sudut ruang yang damai
Disinari cahaya rembulan dari balik tirai
Menghiasi rupamu yang bak mahligai

Kuta,
26 September 2007
03:46 pm

Merajut Pagi Bersamamu

Secangkir kopi panas

Mengepul

asapnya

Ditemani

sebungkus rokok

sebatang dinyalakan

kemudian

dihembuskan

dari mulutmu

Mataku

masih berat

sisa kantuk semalam

Suaramu

terus saja menderu

melantunkan

kenangan masa lalu

Ada binar cerah

di sudut matamu

dan binar suram di sudut lainnya

Ahhh

dirimu

yang tiap pagi

selalu kurindu

Kuta, 23 Desember 2007
02:48 pm

Seandainya

Seandainya aku bisa
setulus seperti aku dulu
Semasa jiwaku sendiri
masih putih dan naif
Mungkin aku sendiri
tidak akan ragu
melangkah dan membenamkan
dalam-dalam
kaki mungilku
Seperti juga dirimu
yang perlahan mengepakkan sayap
Mencoba melayang tinggi
tanpa melihat ke bawah

Denpasar, 30 Oktober 2007

Ajari Aku

Ajari aku
Menuliskan puisi-puisi cinta yang sering kau baca
Ajari aku
Melafalkan kalimat-kalimat cinta milik sang pujangga
Ajari aku
Memahami cinta yang kau siramkan ke hatiku yang dulunya gersang
Please
Tunjukkan padaku
Makna cinta yang pernah aku bunuh pelan-pelan
Karena aku ingin bisa
mencintaimu setulus seperti hatiku dulu
Karena aku ingin bisa
membelaimu dengan lembut dan sayang
seperti kecupan selamat tidur
dan tatapan matamu yang bening
Karena aku
hanyalah seorang manusia biasa
yang lupa bagaimana rupa cinta

Kuta, 20 November 2007
04:37 pm

Dua Biduk di Tengah Danau

Semalam,
Aku bertemu sebuah biduk kecil yang terombang-ambing di tengah danau
Enggan menepi, enggan juga berlayar
Terdiam, walau riak-riak danau menghempas pelan

Kukayuh pelan dayung bidukku menghampiri
Memanggil lirih sang penumpang yang terlihat muram
Berteriak keras suaraku kemudian menggugahnya
Dan kulempar jangkar di sampingnya

Bidukku ikut terombang-ambing di samping biduknya
Di bawah rembulan yang bersinar terang
Di tengah danau yang tak bertepi
Menunggu kembali hati yang terpatri

denpasar, 10:34 pm

Merpati

Aku hampir saja melepas merpati
Untuk terbang mengembara lagi
Berkelana mengitari langit-langit hati
Berharap semoga tanah yang disinggahi nanti
Adalah impian yang dinanti

Aku juga seekor merpati
Yang juga ingin terbang bebas dan tinggi
Kearah mata angin yang kutentukan sendiri

Malamku

Malamku bercerita tentang kepedihan pengembaraan sebuah bintang di langit kelam
Tatkala cakrawala tidak lagi sebagai mimpi bagi bayi-bayi yang dilahirkan tiap detiknya
Rupa bulan pun berubah keruh semenjak amarah menjadi makanan serigala lapar
Goresan ketakutan meratap memanggil kembali malaikat penjaga hidup
Kesabaran bukan lagi jawaban
Penantian selalu runtuh oleh harapan
Keyakinan mungkin tumbuh sebagai pengganti ketidakpastian

Denpasar,
30 September 2007

Yang kosong jadi terisi …

Sejak pertama aku membuat blog ini, itu kira-kira hampir lebih dari 4 bulan yang lalu. Blog ini sama sekali gak aku isi. Ada beberapa alasan sih sebenarnya, salah satunya gak pengen asal ngisi blog yang mungkin bakalan dibaca ama orang seantero jagat maya. Yang kedua, karena masih kurang pede masalah penulisan.

Yah, pada akhirnya tiba juga yang kosong memang harus diisi.

Ahh…

Aku rindu kamu
aku lagi inget kamu
Aku ingin bercinta denganmu
Kau lontarkan kalimat-kalimat itu dari mulutmu yang berbau tembakau
Dan pikiran yang dipenuhi oleh kebebasan ekspresimu
Doktrinmu tentang kehidupan semasa jiwamu berkelana lepas
Keliaran dan kebinalan lakumu kau tumpahkan tanpa ragu

Jadilah manusia yang bebas, katamu
Tanpa dipenjara oleh kotak yang membungkus pikiranmu
Janganlah keterbatasanmu membelenggu hidup
Kaupun berteriak menyanyikan lagu sendu
Seperti kaummu yang selalu memburu nafsu
Dan begitu juga dirimu

Apakah aku hanya pemuas birahimu?

Tak usah kau bilang pun aku sudah tahu
Meski seribu rayuan kau ungkapkan untuk dapat mencumbuku
Tak perlu juga kau meracuniku
Dengan bumbu-bumbu rindu dan gairah menderu
Karena hatiku tak lagi ragu
Untuk kembali ke jalan dimana cinta telah menungguku

Kuta
26 September 2007
01:03 pm